PROBISNIS | Berbicara tentang perjuangan rakyat Aceh, nama Teuku Umar tidak dapat dilewatkan begitu saja. Sejak Perang Aceh meletus pada tahun 1873, ia sudah terjun langsung ke medan tempur di usia 19 tahun. Pada usia itu, banyak orang masih sibuk memikirkan masa depan pribadi, tetapi Umar sudah memikirkan masa depan bangsanya.
Modalnya adalah keberanian, jaringan sosial, dan pemikiran strategis. Dari awal, ia memahami bahwa perang bukan hanya soal kekuatan fisik, tetapi juga kecerdikan berpikir.
Pada awalnya, peran Teuku Umar sama seperti pejuang lainnya yakni mengangkat senjata, melawan Belanda, dan bergerilya. Namun, ia cepat menyadari bahwa melawan pasukan modern dengan persenjataan seadanya adalah hal yang berisiko.
Harus ada taktik yang berbeda dari kebanyakan orang. Dari sinilah lahir kreativitas strateginya. Umar mulai mencari cara agar bisa mendapatkan senjata dan logistik tanpa harus kalah perang terlebih dahulu.
Tahun 1883 menjadi titik awal langkah berani Umar. Ia berpura-pura bekerja sama dengan Belanda. Bagi sebagian orang, ini bisa dianggap sebagai pengkhianatan. Namun, di balik itu terdapat strategi infiltrasi yang matang. Targetnya jelas: masuk, mengambil sumber daya, lalu menyerang dari dalam.
Pada 1887, Umar diangkat menjadi Panglima Pertahanan Rakyat di Keuchik Gampong Darat. Dua tahun kemudian, Sultan Aceh memberinya jabatan Laksamana Aceh Barat. Posisi tersebut memberinya kuasa politik dan militer yang lebih luas. Dengan kedudukan itu, ia lebih leluasa mengatur strategi perang skala besar. Jabatan ini juga memperkuat legitimasinya di mata rakyat Aceh.
Menjalani sembilan tahun sebagai “sekutu” Belanda bukanlah perkara mudah. Umar harus pintar menjaga citra, bermain aman, tetapi tetap menjalankan agenda rahasia. Hasilnya, pada tahun 1893, ia berhasil mengumpulkan 800 pucuk senjata, 25.000 peluru, 5 kilogram amunisi, dan uang sebesar 18.000 dolar. Semua itu menjadi modal besar dalam pertempuran. Kesabaran dan pemilihan waktu menjadi kunci keberhasilan strategi ini.
Setelah persenjataan aman, Umar kembali memimpin rakyat Aceh. Bersama Teuku Panglima Polem Muhammad Daud dan 400 pengikut setia, ia melancarkan serangan mendadak kepada Belanda. Hasilnya, pasukan lawan porak-poranda, 25 orang tewas, dan 190 lainnya luka-luka.
Kejadian ini membuktikan bahwa senjata dan strategi merupakan pasangan yang tidak terpisahkan. Serangan tersebut sekaligus menjadi pernyataan resmi bahwa Umar tidak pernah tunduk pada Belanda.
Kekalahan itu membuat Belanda terkejut. Mereka bahkan mengubah strategi militer yang sudah digunakan sejak 1881. Sistem pertahanan defensif yang mereka jalankan sejak 1884 ditinggalkan. Kini, mereka memilih strategi serangan agresif. Semua perubahan itu dipicu oleh aksi Umar.
Merasa dikhianati, Belanda segera menetapkan Umar sebagai buronan utama. Gubernur Christoffel Deykerhoff memberi mandat kepada Van Heutsz untuk menangkapnya. Pasukan besar dikerahkan ke Aceh. Namun, medan Aceh yang sulit membuat misi itu berjalan lambat. Umar tetap leluasa bergerilya dan melancarkan serangan kecil-kecilan.
Menjelang akhir 1890-an, situasi mulai berubah. Belanda melancarkan serangan mendadak ke Meulaboh. Pasukan Umar terkepung dalam kondisi yang kurang menguntungkan. Meski demikian, Umar tetap memimpin di garis depan. Ia menunjukkan bahwa pemimpin sejati harus hadir bersama pasukannya.
Pada 11 Februari 1899, takdir berbicara lain. Dalam pertempuran sengit itu, peluru menembus dada kiri dan ususnya. Umar gugur di medan perang. Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi Aceh. Namun, ia gugur dengan kehormatan yang tinggi.
Kisah Umar terdokumentasi dalam buku Teuku Umar (2007) karya Mardanas Safwan. Lahir di Meulaboh pada tahun 1854, ia adalah putra Teuku Ahmad Mahmud dan Tjut Mohani. Latar belakang bangsawan membuatnya memiliki akses pada pendidikan dan jaringan politik. Sejak kecil, ia sudah dibiasakan memegang tanggung jawab sosial. Hal ini membentuk jiwa kepemimpinannya.
Umar memiliki tiga saudara, yakni Teuku Musa, Tjut Intan, dan Teuku Mansur. Dalam budaya Aceh, keluarga besar memiliki peran penting dalam perjuangan. Relasi kekerabatan menjadi modal sosial yang signifikan. Umar memanfaatkannya untuk mengonsolidasikan kekuatan. Dukungan keluarga menjadi salah satu faktor yang menguatkan posisinya di medan tempur.
Pada usia 20 tahun, Umar menikah dengan Nyak Sofiah, putri Uleebalang Glumpang. Pernikahan ini memperkuat hubungan politiknya. Ia kemudian menikah lagi dengan Nyak Mahligai, putri Panglima Sagi XXV Mukim. Pada masa itu, pernikahan sering menjadi strategi diplomasi. Umar memanfaatkannya untuk memperluas jaringan kekuasaan.
Pernikahan ketiganya dengan Cut Nyak Dhien menjadi bagian penting perjuangannya. Saat itu, Dhien adalah janda dari Teuku Ibrahim Lamnga yang gugur dalam perlawanan melawan Belanda. Kolaborasi mereka memperkuat perlawanan rakyat Aceh.
Keduanya dikenal sebagai pasangan pejuang yang sama-sama terjun ke medan perang. Kisah mereka menjadi simbol bahwa cinta dan perjuangan dapat berjalan beriringan.
Strategi Umar sering diperdebatkan oleh sejarawan. Ada yang menilai tindakannya sebagai pengkhianatan karena sempat berpihak pada Belanda. Namun, jika melihat hasil akhirnya, jelas bahwa itu adalah bagian dari taktik.
Ia rela mengorbankan reputasi demi kemerdekaan. Dari sini, kita belajar bahwa perang tidak hanya dimenangkan oleh kekuatan fisik, tetapi juga oleh kecerdikan.
Warisan Teuku Umar tetap relevan hingga kini. Ia membuktikan bahwa keberanian tanpa strategi adalah hal yang sia-sia, dan strategi tanpa keberanian juga tidak berguna. Meski telah gugur, semangatnya tetap hidup di hati rakyat Aceh.
Namanya diabadikan sebagai pahlawan nasional. Kisahnya mengajarkan bahwa terkadang, jalan memutar adalah cara tercepat menuju kemenangan. [M. Aldiansyah, S.Pd, Guru Dayah Madrasah Ulumul Quran (MUQ) Pagar Air]
