PROBISNIS | Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menuntaskan rangkaian kunjungan kerjanya di Inggris dengan membawa sejumlah capaian konkret yang berdampak langsung bagi kepentingan nasional.
Hasil kunjungan tersebut mencakup komitmen investasi bernilai miliaran poundsterling, penguatan kerja sama strategis di sektor maritim, hingga kolaborasi pendidikan tinggi.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan, selama berada di Inggris Presiden Prabowo menggelar sejumlah pertemuan penting, termasuk dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Raja Charles III.
“Dari pertemuan-pertemuan tersebut, terdapat tiga capaian utama yang sangat signifikan,” ujar Teddy dalam keterangannya kepada pers di Bandar Udara Stansted, London, Rabu (21/6/2026).
Pertama, Inggris menyatakan komitmen investasi sebesar 4 miliar poundsterling atau setara sekitar Rp90 triliun. Kedua, penguatan kerja sama strategis di bidang maritim. Ketiga, kerja sama pembangunan 1.582 kapal nelayan yang akan diproduksi dan dirakit di Indonesia.
Menurut Teddy, proyek pembangunan kapal nelayan tersebut diproyeksikan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
“Yang menarik, kapal-kapal ini akan diproduksi dan dirakit di Indonesia. Menurut Menteri Kelautan, proyek ini berpotensi menyerap sekitar 600 ribu tenaga kerja,” jelasnya.
Selain sektor ekonomi dan maritim, Presiden Prabowo juga memberi perhatian besar pada penguatan sumber daya manusia melalui kerja sama pendidikan tinggi. Dalam kunjungan tersebut, Presiden bertemu dengan 24 profesor dari 24 universitas terkemuka di Inggris Raya, di antaranya King’s College London, University of Oxford, Imperial College London, dan University of Edinburgh.
“Fokusnya adalah kerja sama pendidikan. Bapak Presiden berencana membangun 10 kampus baru di Indonesia, terutama di bidang kedokteran dan STEM—science, technology, engineering, and mathematics,” kata Teddy.
Kerja sama pendidikan ini mencakup peningkatan jumlah mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di Inggris, pendirian kampus universitas Inggris di Indonesia, hingga program pertukaran dosen.
Presiden Prabowo juga bertemu dengan Menteri Pendidikan Inggris serta perwakilan Russell Group kelompok universitas terbaik di Inggris guna mendorong peningkatan kualitas dan peringkat universitas Indonesia di tingkat global.
Di sela kunjungan luar negeri tersebut, Presiden Prabowo tetap menjalankan agenda strategis nasional. Ia memimpin rapat koordinasi secara daring dengan Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) yang dibentuk pada Januari 2025.
“Setelah menerima laporan dari Satgas, Bapak Presiden memutuskan mencabut izin perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran,” ungkap Teddy.
Menutup keterangannya, Teddy menegaskan bahwa setiap kunjungan luar negeri Presiden Prabowo selalu diarahkan untuk menghasilkan manfaat nyata bagi Indonesia.
“Setiap lawatan Presiden ke luar negeri harus ada hasilnya, ada produknya, dan ada dampak positif yang langsung dirasakan oleh Indonesia,” pungkasnya.
