PROBISNIS – Tanah Aceh yang harum oleh wangi kopi dan doa, lahirlah seorang perempuan yang kelak menjadi nyala api perlawanan. Cut Nyak Dien, namanya tercatat dalam sejarah dengan tinta keberanian dan air mata.
Ia bukan sekadar istri panglima, tetapi panglima dalam jiwanya sendiri. Setiap helaan napasnya, ia simpan janji suci untuk membela marwah tanah kelahirannya. Masa mudanya berwarna seperti senja yang tenang, namun takdir menggiringnya ke medan perang yang penuh bara.
Suaminya, Teuku Umar, gugur dalam perjuangan melawan penjajah Belanda. Kehilangan itu tak memadamkan api, justru menyalakan semangat yang lebih besar. Dalam diamnya, ia menyulam strategi, dalam tatapnya, ia mengirimkan pesan perlawanan.
Bagi Cut Nyak Dien, tanah Aceh adalah kehormatan yang tak ternilai. Hutan dan gunung menjadi sahabatnya, tempat ia memimpin pasukan dengan hati yang tak pernah gentar. Suara tembakan menjadi musik pengiring perjuangannya. Dalam setiap langkahnya, ia menolak tunduk pada kekuasaan asing.
Kabar tentang keberaniannya menyebar seperti angin yang membawa aroma laut. Perempuan Aceh menatapnya dengan kagum, laki-laki menaruh hormat yang dalam. Ia membuktikan bahwa keberanian tak mengenal batas gender. Di tengah keterbatasan, ia berdiri setegak pohon kelapa di pantai yang dihantam ombak.
Cut Nyak Dien tak hanya berperang dengan senjata, tapi juga dengan hati. Ia menguatkan semangat pasukan saat kelelahan mulai merayap. Ia mengajarkan bahwa perang bukan sekadar tentang menang atau kalah, tetapi tentang mempertahankan martabat. Setiap kata yang keluar dari bibirnya adalah api yang membakar rasa takut.
Ketika peluru musuh menembus udara, ia tak pernah mundur. Matanya memandang ke depan, menembus kabut peperangan. Ia tahu, di balik setiap pengorbanan ada masa depan yang harus diperjuangkan dan ia memilih untuk menjadi jembatan menuju masa depan itu.
Hari-hari di hutan bukanlah kemewahan, tetapi ia jalani dengan hati yang lapang. Makanan seadanya, tidur di tanah lembab, dan suara serangga malam menjadi keseharian, namun hatinya tetap hangat oleh semangat perjuangan. Setiap pagi, ia bangun dengan keyakinan bahwa Allah selalu bersama mereka yang berjuang di jalan kebenaran.
Perjuangannya bukan tanpa luka. Tubuhnya mulai rapuh, penglihatannya perlahan memudar. Namun semangatnya tak pernah padam. Bahkan dalam keadaan lemah, ia tetap memimpin dengan suara yang lantang.
Penangkapan oleh Belanda adalah bagian pahit dari kisahnya. Ia dibuang jauh dari tanah kelahirannya, jauh dari tanah yang ia bela sepenuh jiwa. Namun di pengasingan pun, ia tetap menjadi simbol perlawanan. Namanya menjadi doa yang diucapkan di antara desahan napas rakyat Aceh.
Waktu tak mampu menghapus jejaknya. Hingga kini, cerita tentang Cut Nyak Dien hidup di hati generasi muda. Ia adalah pelita yang menerangi jalan perjuangan. Setiap namanya disebut, rasa bangga mengalir di nadi rakyat Aceh.
Keberaniannya adalah warisan yang tak lekang oleh zaman. Ia mengajarkan bahwa perempuan pun bisa menjadi benteng terakhir dalam mempertahankan kehormatan bangsa. Dalam darahnya mengalir keberanian, dalam nadinya berdenyut cinta pada tanah kelahiran.
Tanah Rencong berhutang pada perempuan ini. Setiap jengkal tanah yang masih berdiri tegak adalah hasil dari darah dan air matanya. Kisahnya adalah bukti bahwa kemerdekaan tak datang dari kata-kata, tetapi dari pengorbanan yang tak terukur.
Cut Nyak Dien adalah wajah dari kesetiaan pada bangsa. Ia tak tergoda oleh tawaran damai yang berbalut penyerahan diri. Ia memilih jalan terjal demi tegaknya marwah Aceh.
Dalam diam, ia menumbuhkan keberanian pada hati-hati yang mulai goyah. Ia adalah ibu, kakak, dan sahabat bagi setiap pejuang di sisinya. Ia menanamkan keyakinan bahwa kemerdekaan adalah hak yang harus dipertahankan hingga titik darah terakhir.
Wajahnya mungkin tak lagi bisa kita lihat, tetapi kisahnya hadir di setiap lembar buku sejarah. Ia menjadi teladan bagi perempuan di seluruh negeri. Keteguhannya adalah inspirasi yang tak pernah pudar.
Aceh tanpa Cut Nyak Dien ibarat laut tanpa ombak. Ia adalah gelombang yang memukul keras dinding penjajahan. Setiap riak perjuangannya menciptakan badai yang menumbangkan kesombongan musuh.
Ketika dunia meragukan kekuatan perempuan, ia menjawabnya dengan tindakan. Pedang dan doa menjadi senjatanya. Ia memadukan keberanian dan ketulusan dalam setiap langkah.
Kini, makamnya mungkin jauh dari Aceh, tetapi jiwanya tetap bersemayam di tanah itu. Angin Aceh yang berhembus di pagi hari seakan membawa bisikan namanya. Ia tetap hidup dalam kenangan dan doa rakyatnya. Cut Nyak Dien bukan hanya pahlawan, ia adalah legenda yang lahir dari duka dan keberanian. Ia adalah bunga yang mekar di tengah badai, harum dan tegar.
Marwah Tanah Rencong terjaga berkat tangan dan hati perempuan ini dan selama sejarah terus dituturkan, Cut Nyak Dien akan selalu dikenang, bukan hanya sebagai pahlawan, tetapi sebagai jiwa yang menjaga harga diri bangsanya. [Cut Mardiana, S.Ag, Guru Dayah Madrasah Ulumul Quran (MUQ) Pagar Air]
