JAKARTA – Maskapai nasional PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) membukukan kerugian sepanjang tahun buku 2025 sebesar US$319,39 juta atau setara Rp5,42 triliun (asumsi kurs Rp16.969 per dolar AS). Kerugian ini meningkat sekitar 4,5 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar US$72,7 juta.
Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan, menyampaikan bahwa kinerja keuangan perseroan tertekan akibat penurunan operasional sepanjang tahun. Pendapatan usaha konsolidasi tercatat sebesar US$3,22 miliar, turun 5,9 persen secara tahunan, dikutip CNBC.
“Penurunan ini terjadi seiring fase konsolidasi operasional yang tengah dijalankan untuk memperkuat fundamental bisnis perusahaan,” ujar Glenny dalam keterangan resmi, Selasa (24/3).
Ia menjelaskan, penurunan kinerja dipengaruhi oleh banyaknya armada yang tidak beroperasi (unserviceable) pada semester I-2025 karena menunggu jadwal perawatan. Hingga akhir 2025, jumlah armada siap terbang (serviceable) mencapai 99 pesawat, meningkat dari 84 pesawat pada Juni 2025.
Namun, masih terdapat 43 pesawat yang belum dapat dioperasikan dan tengah menjalani proses perawatan. Kondisi ini turut berdampak pada jumlah penumpang Garuda Indonesia Group yang tercatat sebanyak 21,2 juta sepanjang 2025, turun 10,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain itu, tekanan nilai tukar rupiah dan gangguan rantai pasok industri aviasi global juga meningkatkan biaya operasional, terutama dalam proses perawatan armada.
Ke depan, perseroan optimistis kinerja akan membaik seiring dengan pemulihan armada dan implementasi transformasi bisnis yang berkelanjutan.
Garuda Indonesia juga telah memperoleh suntikan dana sebesar Rp23,67 triliun dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagatha Nusantara (BPI Danantara) pada akhir 2025.
Menurut Glenny, dukungan tersebut mulai memberikan dampak terhadap pemulihan operasional pada semester II-2025. Perseroan menargetkan pada akhir 2026 dapat mengoperasikan 68 armada Garuda Indonesia dan 50 pesawat Citilink dalam kondisi siap terbang.
Saat ini, mayoritas saham Garuda Indonesia dikuasai pemerintah melalui PT Danantara Asset Management sebesar 91,11 persen, sementara PT Trans Airways milik Chairul Tanjung memegang 1,80 persen saham.

