Qatar – Perusahaan energi milik negara Qatar, QatarEnergy, menghentikan produksi gas alam cair (LNG) setelah dua serangan drone yang diduga diluncurkan dari Iran menargetkan fasilitas energinya pada Senin. Insiden tersebut memicu lonjakan harga gas di Eropa hingga hampir 50 persen.
Dalam pernyataan resminya, QatarEnergy menyebut penghentian produksi dilakukan menyusul serangan terhadap fasilitas operasional di Kota Industri Ras Laffan dan Kota Industri Mesaieed.
“Karena serangan militer terhadap fasilitas operasional QatarEnergy di Kota Industri Ras Laffan dan Kota Industri Mesaieed di Negara Qatar, QatarEnergy telah menghentikan produksi gas alam cair (LNG) dan produk terkait,” demikian bunyi pernyataan perusahaan, dikutip dari aljazeera.com.
Sebelumnya, Kementerian Pertahanan Qatar menyatakan bahwa dua drone menyerang wilayahnya. Satu drone menargetkan tangki air milik pembangkit listrik di Mesaieed, sementara drone lainnya menyasar fasilitas energi di Ras Laffan yang dikelola QatarEnergy. Tidak ada laporan korban jiwa dalam insiden tersebut.
Pihak berwenang Qatar menyatakan masih melakukan penilaian terhadap tingkat kerusakan dan kerugian akibat serangan tersebut, serta akan mengeluarkan pernyataan resmi lanjutan.
Secara terpisah, Kementerian Pertahanan Arab Saudi melaporkan dua drone juga berupaya menyerang kilang minyak Ras Tanura Refinery pada Senin pagi. Laporan yang dikutip dari kantor berita resmi Saudi Press Agency (SPA) menyebut kebakaran kecil terjadi setelah drone tersebut berhasil dicegat.
Rekaman yang diverifikasi oleh Al Jazeera menunjukkan kepulan asap membumbung dari fasilitas minyak yang terletak di pesisir Teluk Arab Saudi itu. Kementerian menyatakan kilang mengalami kerusakan terbatas dan tidak ada korban jiwa.
Kilang Ras Tanura, yang berlokasi dekat Kota Dammam di wilayah timur Arab Saudi, memiliki kapasitas produksi sekitar 550.000 barel per hari. Fasilitas ini merupakan salah satu kilang minyak terbesar di Timur Tengah dan menjadi tulang punggung sektor energi kerajaan.
Serangan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk, sementara kapal-kapal tanker minyak dilaporkan menumpuk di kedua sisi Selat Hormuz—jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia yang diangkut melalui laut, termasuk sebagian besar ekspor gas Qatar.
Gangguan terhadap jalur maritim dan meningkatnya kekhawatiran akan konflik berkepanjangan telah mendorong kenaikan tajam harga minyak global, yang berpotensi memberi dampak signifikan terhadap perekonomian dunia.

