PROBISNIS | Di tengah kemajuan teknologi dan gaya hidup serba praktis, minat masyarakat untuk berjalan kaki semakin menurun. Kemudahan akses kendaraan bermotor, transportasi daring, hingga meningkatnya aktivitas berbasis digital membuat aktivitas berjalan kaki kian jarang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Sejumlah pengamat perkotaan menilai, perubahan pola mobilitas masyarakat menjadi salah satu faktor utama menurunnya kebiasaan berjalan kaki. Jarak yang relatif dekat kini kerap ditempuh menggunakan kendaraan, baik pribadi maupun umum, demi efisiensi waktu dan kenyamanan.
Selain itu, perkembangan teknologi juga mendorong masyarakat untuk lebih banyak beraktivitas secara sedentari. Pekerjaan berbasis layar, belanja daring, hingga layanan pesan antar makanan membuat kebutuhan untuk bergerak secara fisik semakin berkurang.
Dari sisi kesehatan, para ahli mengingatkan bahwa menurunnya aktivitas berjalan kaki dapat berdampak pada peningkatan risiko berbagai penyakit, seperti obesitas, diabetes, dan gangguan kardiovaskular. Berjalan kaki secara rutin dinilai sebagai aktivitas fisik sederhana namun efektif untuk menjaga kebugaran tubuh.
Di sisi lain, faktor infrastruktur juga turut memengaruhi. Minimnya fasilitas pejalan kaki yang aman dan nyaman, seperti trotoar yang layak dan ramah disabilitas, membuat sebagian masyarakat enggan berjalan kaki, khususnya di kawasan perkotaan yang padat lalu lintas.
Pemerintah daerah di sejumlah wilayah mulai mendorong kembali budaya berjalan kaki melalui pembangunan jalur pedestrian, kawasan rendah emisi, serta kampanye gaya hidup sehat. Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya aktivitas fisik dalam kehidupan sehari-hari.
Pengamat menyebut, perubahan perilaku masyarakat tidak dapat dilakukan secara instan. Diperlukan dukungan kebijakan, infrastruktur yang memadai, serta edukasi berkelanjutan agar berjalan kaki kembali menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern.
