PROBISNIS | Lembaga pemeringkat asal Jepang, Rating and Investment Information, Inc. (R&I), mempertahankan peringkat utang jangka panjang Republik Indonesia pada level BBB plus, dengan outlook stabil. Peringkat tersebut berada dua tingkat di atas investment grade dan mencerminkan keyakinan R&I terhadap ketahanan fundamental ekonomi Indonesia.
Dalam laporannya, R&I menilai perekonomian Indonesia tetap solid, ditopang oleh potensi demografi yang besar, kekayaan sumber daya alam, serta pertumbuhan sektor industri pengolahan. R&I juga mencatat inflasi yang stabil, rasio utang pemerintah yang relatif rendah, serta kebijakan moneter dan fiskal yang dinilai prudent.
Namun, lembaga pemeringkat tersebut menilai pemerintah perlu terus menyeimbangkan upaya mendorong pertumbuhan ekonomi dengan menjaga keberlanjutan fiskal dalam jangka menengah.
Menanggapi keputusan itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan bahwa langkah R&I mencerminkan kepercayaan internasional terhadap stabilitas ekonomi dan sistem keuangan Indonesia di tengah ketidakpastian global.
“Penegasan peringkat ini menunjukkan keyakinan terhadap soliditas makroekonomi Indonesia. Ke depan, diperlukan upaya bersama yang lebih kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Sinergi erat antara Bank Indonesia dan Pemerintah diharapkan dapat semakin memperkuat persepsi positif terhadap perekonomian nasional,” ujar Perry.
R&I memperkirakan ekonomi Indonesia pada 2025 akan tumbuh sekitar 5 persen, sejalan dengan proyeksi Bank Indonesia yang berada pada kisaran 4,6–5,4 persen. Inflasi diproyeksikan tetap dalam kisaran target, sementara defisit transaksi berjalan diperkirakan rendah, sekitar 1 persen terhadap PDB. Dari sisi fiskal, pemerintah berkomitmen menjaga defisit di bawah 3 persendari PDB.
Bank Indonesia menegaskan akan terus mencermati perkembangan ekonomi dan keuangan global maupun domestik, serta mengambil langkah kebijakan yang diperlukan guna menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
