PROBISNIS | Stabilitas sistem keuangan nasional tetap terjaga hingga Juli 2025, ditopang oleh ketahanan perbankan yang kuat. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan tercatat tinggi sebesar 25,88%, menunjukkan kemampuan sektor perbankan dalam menyerap risiko yang mungkin timbul.
Risiko kredit juga berada pada level yang rendah. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) tercatat sebesar 2,28% secara bruto dan 0,86% secara neto. Hasil stress test Bank Indonesia mengonfirmasi bahwa ketahanan perbankan tetap solid, seiring dengan terjaganya kemampuan membayar dan profitabilitas sektor korporasi.
“Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi kebijakan bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) guna memitigasi berbagai risiko global maupun domestik yang berpotensi mengganggu stabilitas keuangan nasional,” Ramdan Denny Prakoso, Departemen Komunikasi, Jakarta, Rabu, 17 September 2025
Sementara itu, kinerja transaksi ekonomi dan keuangan digital menunjukkan pertumbuhan signifikan pada Agustus 2025. Volume transaksi pembayaran digital mencapai 4,43 miliar atau tumbuh 39,79% (year-on-year/yoy), didorong oleh peningkatan di seluruh kanal pembayaran.
“Transaksi melalui aplikasi mobile dan internet masing-masing tumbuh sebesar 15,86% (yoy) dan 18,85% (yoy). Pertumbuhan signifikan juga tercermin pada transaksi QRIS yang melonjak 145,07% (yoy), sejalan dengan peningkatan jumlah pengguna dan merchant,” jelasnya.
Sementara dari sisi infrastruktur sistem pembayaran, volume transaksi ritel melalui BI-FAST mencapai 398,65 juta transaksi atau tumbuh 27,54% (yoy), dengan nilai transaksi mencapai Rp967,29 triliun. Sementara itu, transaksi nilai besar melalui BI-RTGS tercatat sebanyak 876,89 ribu transaksi dengan nilai mencapai Rp17.170,27 triliun sepanjang Agustus 2025.
“Di sisi pengelolaan uang tunai, Uang Kartal yang Diedarkan (UYD) tumbuh sebesar 12,14% (yoy), menjadi Rp1.180,49 triliun pada Agustus 2025,” ungkap Ramdan Denny Prakoso.
