BerandaOpiniPocut Baren: Srikandi dari Tanah Rencong

Pocut Baren: Srikandi dari Tanah Rencong

PROBISNIS | Pada masa awal abad ke-20, ketika tanah Aceh masih bergejolak akibat penjajahan Belanda, lahirlah seorang perempuan tangguh yang kelak dikenal sebagai Pocut Baren. Ia bukan sekadar perempuan biasa, melainkan keturunan bangsawan dari daerah Pidie, Aceh, yang terlahir dengan jiwa kepemimpinan dan semangat juang yang tak tertandingi.

Pocut Baren hidup dalam bayang-bayang peperangan. Sejak kecil, ia menyaksikan bagaimana rakyat Aceh berjuang mati-matian mempertahankan tanah mereka dari penjajah Belanda. Suasana mencekam, suara tembakan, dan jeritan luka adalah bagian dari kehidupannya sehari-hari. Namun, alih-alih membuatnya takut, semua itu justru membakar semangatnya untuk menjadi bagian dari perjuangan bangsanya.

Meski berasal dari keluarga bangsawan, Pocut Baren tidak hidup dalam kemewahan. Ia lebih memilih berada di tengah rakyat, mendengarkan keluh kesah mereka, dan membantu mengatur perlawanan. Ia dikenal sebagai perempuan yang berani, cerdas, dan tak gentar menghadapi penjajah, bahkan ketika banyak pria sekalipun memilih menyerah atau berpihak kepada Belanda.

Perlawanan di Tengah Keterbatasan

Ketika ayahnya gugur di medan perang, Pocut Baren tidak ragu untuk melanjutkan perjuangan. Ia mengambil alih komando pasukan kecil yang terdiri dari para pejuang rakyat. Mereka bergerak secara gerilya di hutan-hutan dan pegunungan, menyerang pos-pos Belanda, dan memutus jalur logistik mereka.

Kelebihan Pocut Baren terletak pada strategi dan taktiknya yang licin. Ia tidak menyerang secara frontal, tetapi memilih waktu yang tepat untuk menyerang dan langsung menghilang sebelum pasukan Belanda membalas. Dalam beberapa catatan lisan rakyat, Belanda menyebutnya sebagai “perempuan berbahaya yang tak bisa ditangkap.”

Pocut Baren juga terkenal karena kemampuannya menggerakkan semangat rakyat, terutama kaum perempuan. Ia mengajak para wanita untuk tidak hanya menjadi pendukung di belakang layar, tetapi juga turut serta dalam perjuangan. Ia melatih mereka untuk menjadi perawat, kurir, bahkan pejuang. Bagi Pocut Baren, kemerdekaan adalah urusan semua orang laki-laki dan perempuan, tua maupun muda.

Tertangkap dan Diasingkan

Namun perjuangan tidak selalu berjalan mulus. Setelah bertahun-tahun bergerilya, pasukan Belanda akhirnya berhasil menangkap Pocut Baren. Ia ditangkap setelah salah satu informannya dikhianati, dan pasukan Belanda menyerbu tempat persembunyiannya di tengah malam.

Namun, saat ditangkap, Pocut Baren tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Dalam catatan Belanda, ia bahkan disebut “perempuan paling keras kepala dan tak bisa dilunakkan.” Belanda berusaha membujuknya agar menyerah, menawarkan kedudukan, uang, bahkan kebebasan, asalkan ia mau bekerja sama. Tetapi semua itu ditolaknya mentah-mentah.

Karena dianggap terlalu berbahaya, Pocut Baren kemudian diasingkan ke daerah luar Aceh, jauh dari rakyatnya. Namun, meski tubuhnya ditahan, semangatnya tak pernah padam. Ia tetap mengirim pesan-pesan perjuangan secara rahasia, dan namanya terus hidup sebagai simbol perlawanan.

Akhir Hayat Pocut Baren: Pejuang Tak Pernah Padam

Setelah bertahun-tahun memimpin perlawanan rakyat Aceh Barat melawan penjajahan Belanda, Pocut Baren menjadi sosok yang sangat ditakuti oleh pihak kolonial. Ia bukan hanya pemimpin perang, tapi juga simbol perlawanan rakyat, terutama kaum perempuan Aceh. Dengan kaki kayu yang dikenakannya akibat luka perang, Pocut Baren terus memimpin gerilya dan memobilisasi rakyat untuk menolak dominasi asing di bumi rencong.

Namun, seiring berjalannya waktu, perjuangan Pocut Baren harus menghadapi tantangan yang semakin berat. Pasukan Aceh makin terdesak, banyak pejuang gugur, dan logistik mulai menipis. Belanda juga menggunakan taktik kotor—menghasut rakyat agar tidak lagi mendukung para pejuang, bahkan menangkap keluarga-keluarga mereka.

Meskipun demikian, semangat Pocut Baren tidak pernah surut. Ia terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain, memimpin dengan tekad dan keberanian, hingga akhirnya ia tertangkap oleh Belanda pada masa-masa akhir perlawanan di Aceh.

Diasingkan ke Luar Daerah

Setelah ditangkap, Pocut Baren dianggap terlalu berbahaya untuk ditahan di wilayah Aceh. Belanda khawatir keberadaannya di tanah kelahirannya akan terus memicu semangat pemberontakan. Oleh karena itu, ia kemudian dibuang ke luar Aceh, yaitu ke Sumatera Utara, seperti yang dialami banyak pejuang Aceh lainnya.

Selama dalam pengasingan, Pocut Baren hidup dalam kondisi sederhana. Namun, ia tetap dihormati oleh masyarakat setempat karena keberaniannya. Dalam pengasingan itu pula, semangat juangnya tidak pernah padam. Ia terus menyampaikan nasihat kepada rakyat Aceh yang datang menjenguk, dan berpesan agar tidak pernah menyerah terhadap penjajahan.

Wafat di Pengasingan, Dimakamkan di Kampung Halaman

Pada tanggal 12 Maret 1928, Pocut Baren wafat di pengasingan dalam usia yang cukup tua. Ia menghembuskan napas terakhirnya dalam kesunyian, jauh dari medan perang yang dulu menjadi ladangnya perjuangan. Meski demikian, kepergiannya membawa duka mendalam bagi rakyat Aceh.

Setelah wafat, jenazahnya dipulangkan ke kampung halamannya di Gampong Tungkop, Kecamatan Sungai Mas, Aceh Barat, dan dimakamkan di sana. Hingga hari ini, makamnya masih dapat diziarahi, menjadi tempat perenungan dan penghormatan atas perjuangan seorang perempuan yang telah mengabdikan seluruh hidupnya demi tanah air.

Warisan Semangat

Pocut Baren bukan hanya dikenang karena keberaniannya memanggul senjata, tapi juga karena keteguhan prinsip dan semangat kepemimpinan yang ia tunjukkan di tengah dominasi budaya patriarki dan kolonialisme. Ia adalah simbol bahwa perempuan juga bisa menjadi pemimpin, pejuang, dan penjaga martabat bangsa.

Kini, namanya diabadikan sebagai nama jalan di Banda Aceh, sebagai bentuk penghormatan dan pengingat akan jasanya. Kisah hidupnya juga sering diceritakan dalam buku sejarah, hikayat Aceh, dan pelajaran tentang nasionalisme. [Nurul Rahmi, S.Pd.I, Guru Dayah Madrasah Ulumul Quran (MUQ) Pagar Air]

 

Editor:

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

BERITA TERKAIT

Lihat lainnya

BERITA TERBARU

Lihat lainnya

Populer

Sekda Aceh Terima Forum LSM, Pemerintah Susun Quick Win Pemulihan Pascabencana

BANDA ACEH – Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir, menerima audiensi Forum Solidaritas Aceh di Posko Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Pemerintah Aceh, Jumat (9/1/2026)....

Sekda Aceh Tegaskan Komitmen Dukung KONI