BerandaOpiniPocut Meurah Intan: Perempuan Aceh yang Menampar Harga Diri Penjajah

Pocut Meurah Intan: Perempuan Aceh yang Menampar Harga Diri Penjajah

PROBISNIS | Sejarah tidak hanya menyimpan kisah para lelaki bersenjata di medan perang. Di Aceh, lembar sejarah juga merekam jejak seorang perempuan bangsawan yang keberaniannya melampaui batas nalar musuhnya. Pocut Meurah Intan, atau yang dikenal pula sebagai Pocut Di Biheue. Namanya adalah denting keberanian yang masih terdengar hingga kini.

Hidup di masa ketika Aceh dilanda gempuran kolonial Belanda. Banyak tokoh bangsawan memilih jalan damai atau terpaksa tunduk demi bertahan. Pocut berbeda, darah kesultanan yang mengalir di tubuhnya tidak pernah mendidih karena harta atau kuasa, melainkan karena tekad mempertahankan tanah kelahirannya dari cengkeraman penjajah.

Sumber-sumber sejarah mencatat, dalam satu peristiwa dramatis, Pocut berhadapan seorang diri dengan patroli marsose, pasukan khusus Belanda yang berjumlah belasan orang. Ia dikepung, namun tidak gentar. “Kalau begini, biarkan aku mati,” teriaknya lantang, sebelum melompat menyerang dengan rencong di tangan.

Bayangkan, seorang perempuan paruh baya, mengayunkan senjata ke kiri dan kanan, membuat tentara lawan terkejut bukan kepalang. Tikaman demi tikaman melukai beberapa prajurit Belanda. Sementara itu, tubuhnya sendiri menerima tebasan pedang. Darah bercampur lumpur membasahi tubuhnya.

Saat nyawanya nyaris terbang, perwira Belanda TJ Veltman menghampiri dan berusaha menolong. Namun, alih-alih berterima kasih, Pocut meludah ke wajahnya. “Jangan kau pegang aku kaphe,” katanya tegas. Satu kalimat yang memukul harga diri sang perwira lebih keras dari pada hunusan rencong.

Kejadian itu begitu membekas di hati Veltman. Dalam catatan sejarahnya yang terbit tahun 1919, ia memberi Pocut julukan Heldhaftig perempuan yang gagah berani. Keberanian Pocut tidak lahir untuk pujian atau gelar, melainkan dari keyakinan bahwa kehormatan tanah air jauh lebih berharga daripada hidup itu sendiri.

Pocut adalah istri dari Tuanku Abdul Majid, seorang pejuang yang gigih melawan Belanda di Selat Malaka. Belanda menyebutnya “perompak laut”, padahal ia hanya menjalankan tugas resmi Kesultanan Aceh untuk memungut bea cukai di pelabuhan. Fitnah kolonial itu tak mematahkan langkah pasangan suami-istri ini untuk terus melawan.

Ketika Tuanku Abdul Majid ditawan Belanda, Pocut tidak mundur. Ia mengajak ketiga putranya yakni Tuanku Muhammad Batee, Tuanku Budiman, dan Tuanku Nurdin untuk terus melanjutkan perlawanan. Dua di antara mereka bahkan menjadi buronan paling dicari oleh Belanda.

Pasukan marsose melakukan pengejaran besar-besaran di wilayah Biheue dan Pidie. Namun Pocut dan anak-anaknya tak mudah ditangkap. Mereka bergerak secara gerilya, memanfaatkan setiap celah hutan, gunung, dan desa untuk bertahan.

Di mata Belanda, Pocut adalah simbol perlawanan yang sulit dipatahkan. Di mata rakyat Aceh, ia adalah lambang harga diri dan kehormatan yang tak ternilai. Ia membuktikan bahwa perempuan tidak sekadar berada di belakang garis depan, tetapi mampu berdiri di jantung pertempuran.

Ratusan tahun setelah dentingan rencongnya berhenti, kita harus bertanya pada diri sendiri: apakah keberanian seperti itu masih hidup dalam dada kita? Apakah kita hanya menghafal namanya di pelajaran sejarah, atau benar-benar menyerap semangatnya untuk mempertahankan kebenaran dan kehormatan?

Pocut Meurah Intan tidak pernah menulis buku atau memberi pidato panjang. Ia menulis sejarahnya dengan darah, luka, dan pilihan untuk tidak tunduk. Warisan terbesarnya bukan hanya kemenangan di medan perang, melainkan teladan bahwa martabat bangsa tak bisa dibeli. Dan di sanalah, kita menemukan makna sejati dari kata “merdeka.” [Dra. Nazariah A. Rahman, M.A, Guru Dayah Madrasah Ulumul Quran (MUQ) Pagar Air]

 

 

 

 

 

 

Editor:

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

BERITA TERKAIT

Lihat lainnya

BERITA TERBARU

Lihat lainnya

Populer

Sekda Aceh Terima Forum LSM, Pemerintah Susun Quick Win Pemulihan Pascabencana

BANDA ACEH – Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir, menerima audiensi Forum Solidaritas Aceh di Posko Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Pemerintah Aceh, Jumat (9/1/2026)....

Sekda Aceh Tegaskan Komitmen Dukung KONI